Minggu, 30 Mei 2021

Kritik dan Esai Puisi Sajak Palsu Karya Agus R. Sarjono

Puisi merupakan suatu imajinasi yang diungkapakan oleh pengarangnya. Bagaimana seseorang tersebut menggambarkan suatu kejadian, bagaimana seseorang tersebut mengungkapkan segala isi hatinya, bagaimana seseorang tersebut melukiskan sosok dirinya, dan sebagainya. Sebagai contoh, Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono. Penyair menyuguhkan salah satu realita yang terjadi di negeri ini melalui puisinya dengan memotret kehidupan masyarakat bangsa ini yang penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Berikut adalah puisinya.

Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah 

dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar

sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah

mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka

yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah

mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru

untuk menyerahkan amplop berisi perhatian

dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru

dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan

nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah

demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir

sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,

ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan

atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi

mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi palsu sebagai panglima

palsu. Mereka saksikan

ramainya perniagaan palsu dengan ekspor

dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan

berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus

dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga

pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri

yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga

dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka

uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis

yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam

nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu

meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan

gagasan-gagasan palsu di tengah seminar

dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya

demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring

dan palsu.

1998


Dari puisi di atas yang berjudul “Sajak Palsu” yang di tulis oleh Agus R. Sarjono. Pengarang menceritakan tentang kehidupan di negeri ini  yang penuh dengan kepalsuan atau kebohongan.  Puisi tersebut mengangkat potret kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Hal ini sering terjadi di kehidupan masyarakat saat ini. Sangat terlihat bahwa pemerintah bekerja dengan kepalsuan pencitraan kekuasaan, seolah untuk rakyat, namun realitanya kekuasaan didayagunakan hanya untuk diri dan kelompok sendiri.

Dalam puisi tersebut penyair menggambarkan dengan jelas bagaimana negeri ini berada dalam kegelapan karena dihuni oleh banyaknya kepalsuan yang berakibat fatal bagi bangsa Indonesia sendiri. Hal tersebut sangat berdampak buruk bagi generasi muda, sang pemegang kunci masa depan bangsa. Kalau generasi muda sering disuapi kenyataan hidup yang palsu, maka akan menjadi generasi penerus bangsa sebagai penggerak kehidupan negara yang tak dapat lepas dari kepalsuan, baik itu kehidupannya dimasa yang akan datang maupun sejarahnya pembentukannya. Akan tetapi, tentu saja kita tidak mau hidup dalam kebohongan hingga tidak ada satu pun orang yang bisa dipercayai. 

Dalam puisi "Sajak Palsu" Penyair menggunakan diksi yang mudah dipahami. Bentuk  puisi lebih kelihatan seperti sebuah karangan cerita tidak berupa bait yang terpisah-pisah. Penyair menyampaikan puisi ini bertujuan untuk menyindir dan mengingatkan kepada pengobral kepalsuan di negeri ini agar mereka bertobat menuju kejujuran.




Minggu, 23 Mei 2021

Kritik dan Esai Puisi Wiji Thukul

 Kritik dan Esai Puisi Wiji Thukul


                 PERINGATAN

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!


          Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu


Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu


Kritik dan Esai Puisi

Puisi "Peringatan" karya Wiji Thukul menggambarkan keadaan atau situasi yang terjadi negeri pada saat ini. Pengarang menggambarkan ketidakpedulian rakyat kepada pemerintah. Rakyat merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah dan janji-janji pemerintah kepada rakyatnya. Hal ini juga dikarenakan mungkin banyak terjadi ketidakadilan yang dialami oleh rakyat sehingga ketika pemerintah menyampaikan sesuatu rakyat enggan mendengarkannya. Ini menggambarkan bahwa ketika penguasa memberikan pandangan rakyat sudah tidak lagi mendengarkannya. Selanjutnya pengarang memberikan peringatan Pengarang mencoba mengingatkan bahwa akan ada perlawanan dari rakyat kepada penguasa. Hal ini dikarenakan rakyat sudah putus asa dan bosan dengan kebijakan pemerintah.

Dalam puisi "Peringatan" pengarang juga mencoba menggambarkan bahwa kegelisahan rakyat rakyat itu tidak bisa diungkapkan secara terbuka, karena dianggap menentang pemerintah. Pengarang juga memberikan peringatan kepada pemerintah untuk berhati–hati membuat kebijakan. Pengarang menyampaikan peringatan kepada pemerintah untuk peka terhadap kondisi rakyat saat itu. Mendengar pendapat rakyat sehingga pemerintah tahu apa yang diinginkan rakyat.

Pada puisi "Peringatan" pengarang menggambarkan bahwa rakyat bayak yang berani mengeluarkan pendapat. Hal ini mungkin dikarenakan rakyat sudah bosan dan mulai berani berkeluh kesah secara terbuka. Perlawanan rakyat melalui pendapat dan kritikan akan dianggap pemerintah sebagai bentuk untuk menjatuhkan kekuasaan, sehingga segala usul pendapat dan kritikan dari rakyat serta apapun yang dianggap mengancam penguasa, akan dilawan oleh penguasa.

Puisi “Peringatan“ karya Wiji Thukul menggunakan makna dan bahasa yang tegas dan lebih menekankan kritik yang pedas dan mengecam pemerintahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika rakyat harus tunduk pada penguasa dan dilarang mengkritik apa- apa tentang pemerintahan sebab bila rakyat menyampaikan suaranya yang berupa kritikan maka akan dianggap melawan pemerintah. Untuk memperbaiki negeri ini, bukan saling tuduh ataupun saling mengkhianati satu sama lain, yang dibutuhkan adalah adanya keselarasan antara pemerintah dengan rakyatnya


Puisi “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” pengarang mencoba menyampaikan puisi yang menyindir para penguasa dan pemerintahan. Dalam puisi tersebut memiliki makna bahwa sejatinya seseorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya dalam kebaikan itu tidak ada gunanya sama sekali dan orang yang selalu membaca buku namun selalu bungkam dan tidak bisa menegakkan kebenaran itu juga hanyalah sebuah kesia-siaan.

Dalam puisi tersebut seperti disampaikan sebuah sindiran kepada sebagian penguasa pemerintahan yang masih suka berkomplot dengan orang-orang licik dengan tujuan yang tidak baik atau hanya menguntungkan dirinya sendiri. Sedangkan akibatnya adalah rakyat-rakyat yang tertindas dan tidak mendapat keadilan. Pengarang beharap bahwa para pejabat serta seseorang yang memiliki banyak uang dapat berlaku bijaksana terhadap setiap orang maupun masyarakat. Pengarang menyampaikan pesan kepada rakyat bahwa sebaiknya rakyat bisa memanfaatkan ilmu yang telah ia terima dengan sebaik mungkin.

Puisi ini memiliki makna yang sangat mendalam sesuai dengan kenyataan yang sedang kita alami saat ini. Pengarang menyampaikan pesan agar kita selalu memanfaatkan ilmu yang kita dapat pada hal-hal yang baik dan tidak merugikan orang lain. Kita harus menjadi orang yang bijak dalam memanfaatkan ilmu yang kita dapat.






Minggu, 16 Mei 2021

Kritik Dan Esai Puisi "Idul Fitri" Karya Sutardji Calzoum Bachri

Kritik Dan Esai Puisi "Idul Fitri" Karya Sutardji Calzoum Bachri


IDUL FITRI 

Karya Sutardji Calzoum Bachri


Lihat 

Pedang taubat ini menebas-nebas hati 

Dari masa lampau yang lalai dan sia-sia 

Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku 

Telah kutegakkan shalat malam 

Telah kuuntai wirid tiap malam dan siang 

Telah kuhamparkan sajadahku 

Yang tak hanya nuju ka’bah

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah 

Dan di malam Qadar aku pun menunggu 

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya 


Maka aku girang-girangkan hatiku 

Aku bilang: 

Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang 

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu 

Takkan pernah melupa 

Takkan kulupa janjiNya 

Bagi yang merindu insya –Allah ka nada mustajab cinta 


Maka walau tak jumpa denganNya 

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini 

Semakin mendekatkan aku padaNya 

Dan semakin dekat 

Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa 


O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini 

Ngebut Di jalan lurus 

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir 

Tempat usai lalaiku menenggak arak di warung dunia 

Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu 

Di ujung sisa usia 


O usia lalai yang berkepanjangan 

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus 

Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir 

Tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia 


Maka pagi ini 

Kukenakan zirah la ilaha illallah 

Aku pakai sepatu siratul mustaqiem 

Akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied

Aku bawa masjid dalam diriku 

Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat 

Dan kurayakan kelahiran kembali 

Di sana 

1987 


Kritik dan Esai

Puisi "Idul Fitri" menggambarkan bagaimana manusia berperoses mendekatkan diri dengan Tuhan. Pengarang mencoba mengungkapkan perjalanan spritual yang terjadi dalam kehidupan manusia. Hal ini dilakukan untuk membuka hati manusia dalam mendapatkan kebaikan Tuhan.

Puisi "Idul Fitri" menggambarkan tentang kehidupan manusia yang menerima hidup dengan apa yang diberikan oleh Tuhan dan bersyukur dengan semua yang terjadi dalam kehidupan ini. Manusia menjalani hidup dengan ikhlas dan mengharapkan kebaikan dariTuhan. Hal ini terdapat dalam bait pertama dalam puisi "Idul Fitri" berikut ini.


Lihat 

Pedang taubat ini menebas-nebas hati 

Dari masa lampau yang lalai dan sia-sia 

Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku 

Telah kutegakkan shalat malam 

Telah kuuntai wirid tiap malam dan siang 

Telah kuhamparkan sajadahku 

Yang tak hanya nuju ka’bah 

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah 

Dan di malam Qadar aku pun menunggu 

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya 


Dalam bait pertama puisi "Idul Fitri menggambarkan bahwa manusia membersihkan dirinya dari dosa yang menjadi penyebab manusia jauh dari Tuhan. Manusia memohon ampun dari Tuhan dan suci dalam niat, jauh dari kemegahan, lurus hati dalam bertindak. Dalam hal ini manusia ikhlas dalam setiap pemberian Tuhan, karena dengan ikhlas kebaikan manusia menjadi pokok utama dan paling penting dalam berperilaku yang baik dihadapan Tuhan. Dengan melakukan kebaikan dalam hidup bisa membuat kita lebih meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan, karena bahwasannya kita hidup di dunia hanya sementara, kenikmatan dan kebahagian di dunia itu sebenarnya datang dari Tuhan.

Puisi "Idul Fitri" menggambarkan tentang bagaimana manusia merindukan kehadiran Tuhan. Dalam kehidupan ini, manusia pasti selalu dihadapakan dengan berbagai persoalan hidup, saat itulah kita membutuhkan bantuan Tuhan. Dalam mencintai Tuhan kita tidak boleh membutuhkan Tuhan hanya disaat kita susah, akan tetapi kita harus mencintai Tuhan setiap saat. Penggambaran tantang manusia merindukan kehadiran Tuhan terdapat dalam bait puisi "Idul Fitri" sebagai berikut.


Maka aku girang-girangkan hatiku 

Aku bilang: 

Tardji, rindu yang kau wudhukan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang 

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu 

Takkan kulupa janjiNya 

Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta 


Dalam bait puisi tersebut mengandung makna bahwa manusia merindukan kehadiran Tuhan. Ketika cinta kepada Tuhan sudah tumbuh dalam hati manusia, maka dengan sendirinya ia akan berusaha keras untuk mengambil kesempatan yang ia miliki untuk mencintai dan berusaha menyatukan hatinya kepada Tuhan. Dengan demikian, kerinduan kepada Tuhan merupakan buah dari bagaimana cinta dalam hati seorang manusia. Tuhan begitu dekat dengan kita, dalam samar kerinduan manusia Tuhan pasti hadir ketika kita menyebut nama Tuhan dalam setiap kegiatan kita. 

Puisi "Idul Fitri" menggambarkan tentang bagaimana manusia melakukan pemeriksaan diri atau tobat. Dalam kehidupan manusia kita pasti tidak luput dari dosa, oleh karena itu kita perlu melakukan tobat. Dengan tobat kita akan mendapatkan ampunan dari Tuhan. Hal ini terdapat dalam bait puisi "Idul Fitri" sebagai berikut.


Maka walau tak jumpa denganNya 

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini 

Semakin mendekatkan aku padaNya 

Dan semakin dekat 

Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa 


Dalam bait puisi tersebut mengandung makna bahwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kita perlu melakukan pemeriksaan diri atau tobat. Dengan begitu banyaknya dosa yang kita lakukan dalam hidup ini, maka kita harus taat beribadah. Ketaatan kita kepada Tuhan tidak hanya sebatas beribadah, karena untuk menghapus setiap kesalahan yang kita buat dibutuhkan kemulian hati yang bersih. Oleh karena itu,sekecil apa pun kesalahan yang kita buat segeralah bertobat, dengan cara membersihkan hati dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Puisi "Idul Fitri" menggambarkan tentang kebaikan akan datang bagi orang yang telah bertobat. Hal ini digambarkan dalam bait puisi "Idul Fitri" berikut.


O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini 

Ngebut Di jalan lurus 

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir 

Tempat usai lalaiku menenggak arak di warung dunia 

Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu 

Di ujung sisa usia 


Dari bait tersebut mengandung makna bahawa dengan melaksanakan tobat yang sungguh-sunguh dan mengutamakan cinta kepada Tuhan, akan datang kebaikan dari Tuhan. Melalui pertobatan kita diajak menyadari keadaan diri kita agar bisa membangun relasi yang baik dengan diri sendiri, dengan sesama dan terutama dengan Tuhan. Betapa besarnya kebaikan-kebaikan Tuhan yang diberikan kepada kita, oleh karena itu kita harus membagi kebaikan kepada orang lain sebagai bentuk cinta kita kepada Tuhan. 

Dalam puisi “Idul Fitri” manusia diajak untuk meningkatkan keimanan atau ketuhanan. Namun, dalam puisi tersebut digambarkan juga bahwa ketuhanan seseorang dipertanyakan eksistensinya, sebagaimana terlukis dalam bait kelima berikut ini. 


O usia lalai yang berkepanjangan 

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus 

Tuhan jangan Kau depakkan alagi aku di trotoir 

Tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia 


Dalam bait puisi tersebut mengandung makna bahwa setiap tindakan kita akan diperhitungkan nilai baik buruknya. Bila kita lebih banyak melakukan kebaikan, kita bersyukur dan berusaha meningkatkannya lagi, atau paling tidak mempertahankannya. Pemeriksaan diri berkaitan dengan upaya dalam menjaga kalbu, lidah, mata, dan segenap anggota badan agar terhindar dari perbuatan jelek sehingga akan terhindar dari api neraka. Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi semua hal yang terlintas agar selalu berpikir positif. Setiap tindakan dan pikiran kita didasarkan pada dorongan ilahi dan bukan dorongan setan. 

Dalam puisi "Idul Fitri" digambarkan tentang ajaran ketuhanan, yaitu bagaimana manusia berproses menyempurnakan diri kepada Tuhan sebagai bentuk kesadaran akan cinta Tuhan. Hal ini digambarkan dalam bait puisi berikut.


Maka pagi ini 

Kukenakan zirah la ilaha illallah 

Aku pakai sepatu siratul mustaqiem 

Akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied

Aku bawa masjid dalam diriku 

Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat 

Dan kurayakan kelahiran kembali 

Di sana 

1987 


Dari bait tersebut mengandung makna bahwa manusia menyadari dan memiliki dorangan kuat untuk mencari Tuhan. Dalam hal, kita sepenuhnya percaya bahwa dengan menyerahkan diri kepada Tuhan, maka kita akan mendapat cinta Tuhan yang sesungguhnya.


Puisi "Idul Fitri" karya Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan tentang ketuhanan. Dalam puisi tersebut kita disadarkan bahwa memeriksa diri ata tobat sangatlah penting dalam proses penyatuan diri kepada Tuhan. Puisi "Idul Fitri" karya Sutardji Calzoum Bachri sangat relevan dengan kehidupan manusia saat ini. Hal ini digambarkan dalam puisi tentang bagaimana manusia merindukan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Jumat, 07 Mei 2021

Kritik dan Esai Puisi "Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga" Karya Mashuri

 

Kritik dan Esai Puisi "Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga" Karya Mashuri

Hantu Kolam

: plung!
di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang

mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
kak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama

segalanya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin...

"plung!"

aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
karena kini kolom tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Bayuwangi, 2012-12-03



Hantu Musim


aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan - memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas - yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang bergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau yang seribu, karena di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengunag-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti...

Mangelang, 2012



Hantu Dermaga


mimpi, puisi dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tak sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal

tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
meski pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali

Sidoarjo, 2012



Kritik dan Esai Puisi Karya Mashuri

Puisi "Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga" karya Mashuri menggambarkan kondisi sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Pengarang menunjukkan bahwa realita kehidupan yang ada tidak bisa diurai dan dipahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada tidak menemukan jawaban yang pasti.Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan kata "hantu" dari setiap judul puisi tersebut. Kata hantu merujuk pada sosok yang kasat mata, tidak dapat dilihat dengan jelas.

Puisi "hantu Kolam" menggambarkan kehidupan manusia yang seringkali dihadapkan dengan masalah hidup yang tidak bisa lepas dari pengaruh masa lalu. Hal ini dapat dilihat pada bait puisi berikut.

: plung!
di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang

Dari bait tersebut pengarang menggambarkan kehidupan manusia yang belum lepas dari kehidupan masa lalu yang terus menghantui pikirannya. Manusia selalu memikirkan sesuatu yang terjadi dengan kehidupannya. Hal ini sering terjadi dalam setiap manusia untuk mencoba memahami situasi kehidupan yang dialami di kehidupan masa lalu maupaun yang sedang terjadi.

mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
kak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama

Dari bait tersebut mengandung makna mengenai kondisi kehidupan manusia yang selalu berhadapan dengan kegelapan atau tidak dalam kondisi yang baik. Hal ini juga masih sama seperti yang terjadi dimasa lalu. Dalam kehidupan, kita sering dihadapakan dengan situasi buruk yang membawa kita kembali ke masa lalu yang pernah merusak hidup kita.

segalanya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin...

Dari bait tersebut mengandung makna bahwa sesuatu yang menganggu kehidupan kita akan membuat hidup kita tidak tenang. Masalah memang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Hal ini membuat kita stres dan sulit untuk mencari solusi yang baik untuk menghadapi sebuah masalah.

"plung!"

aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
karena kini kolom tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Dari bait tersebut mengandung makna bahwa dalam kehidupan manusia kita pasti memliki sesuatu yang merusak kehidupan kita atau kita belum menemukan jawaban atas apa yang kita cari. Sampai akhirnya kita putus asa dan menjadikan kehidupan masa lalu sebagai kenangan yang pahit. Seperti halnya hantu yang selalu berada dalam gelap yang tidak bisa dilihat, namun terkadang hanya dapat melihat bayangannya saja.


Puisi kedua "Hantu Musim" menggambarkan kondisi kehidupan manusia yang tidak pasti. Kita tidak bisa menebak apa yang terjadi pada masa depan karena dalam kenyataannya kehidupan selalu berubah-ubah. Berikut adalah makna yang terkandung dalam puisi "Hantu Musim" karya Mashuri.

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan - memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas - yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

Pada bait tersebut mengandung makna bahwa sesuatu yang ada dalam kehidupan kita seiring waktu akan berubah atau belum pasti terjadi sesuai dengan rencana. Dalam kehidupan manusia kita seringkali merencanakan sesuatu yang luar biasa, namun pada akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuatu yang kita perjuangkan dalam hidup kepastian akhirnya belum kita ketahui dan juga berhasil atau tidaknya. Akan tetapi, keberhasilan akan datang dari usaha yang kita lakukan dari waktu ke waktu.

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang bergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau yang seribu, karena di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

Pada bait tersebut mengandung makna bahwa dalam menjalani proses kehidupan sangat penting kita sebagai manusia menanamkan sesuatu yang baik kepada orang lain. Karena dalam kehidupan sekarang berbuat baik kepada orang lain akan membawa kita ke kehidupan yang lebih baik lagi. Semakin banyak kita berbuat baik maka semakin banyak orang yang suka dengan kita. Meskipun dalam hidup selalu memberi ketidakpastian, namun kita meyakini bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan.
di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengunag-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti...

Pada bait tersebut mengandung makna bahwa sesuatu yang kita jalani dalam hidup ini selalu dihadapakan dengan begitu banyak situasi yang tidak pasti. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada esok hari dengan pasti. Bahkan setiap waktu segala sesuatu bisa berubah total. Sudah banyak terjadi dalam kehidupan manusia, dimana orang kaya sekejab menjadi miskin. Semua hal yang berubah bisa terjadi tanapa dapat kita duga. Bahkan banyak peristiwa dalam kehidupan manusia seringkali tidak masuk logika.


Puisi "Hantu Dermaga" menggambarkan kehidupan manusia yang dihadapkan dengan ketidakpastian. Hal ini dapat dilihat dalam bait puisi berikut.

mimpi, puisi dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tak sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal

Dari bait tersebut mengandung makna bahwa dalam menjalani proses kehidupan setiap orang memiliki tujuan hidup sebagai identitas diri yang kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Manusia bukan hanya sekedar hidup dan menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin, akan tetapi harus memiliki manfaat dan melakukan suatu tindakan untuk mencapai tujuan hidup. Namun dalam kehiduan manusia seringkali kita menemukan ketidakpastian yang akan menghancurkan rencana hidup kita.



tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
meski pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali

Bait tersebut mengandung makna bahwa kehidupan kita seperti bergerak ke arah yang tidak menentu. Banyak persitiwa kehidupan yang membuat kita takut dan khawatir dengan ketidakpastian yang ada. Bahkan ketidakpastian membuat kita tidak nyaman karena kita merasa kehilangan kendali atas hidup. Pada dasarnya kita memang bereaksi terhadap ketidakpastian karena selalu berhubungan dengan proses kehidupan yang selalu berubah-ubah.


Puisi "Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga" karya Mashuri menggambarkan kondisi sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Pengarang menunjukkan bahwa realita kehidupan yang ada tidak bisa diurai dan dipahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada tidak menemukan jawaban yang pasti. Puisi Mashuri bisa menggambarkan betapa dasyatnya perubahan sosial yang tidak bisa disiasati. Manusia tidak bisa memahami sebuah realita kehidupan tanpa ada sesuatu yang bisa diyakini. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan kata "hantu" dari setiap judul puisi tersebut. Kata hantu merujuk pada sosok yang kasat mata, tidak dapat dilihat dengan jelas.



Sabtu, 24 April 2021

Kritik dan Esai Cerpen "Sulastri dan Empat Lelaki" Karya M. Shoim Anwar

Kritik dan Esai Cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” Karya M. Shoim Anwar

Cerpen “Sulastri dan Empat lelaki” karya M. Shoim Anwar menceritakan tentang tokoh Sulastri yang dihadapakan dengan empat tokoh yang berbeda, yaitu seorang polisi, Markam, Firaun, dan Musa. 

Dalam kehidupan manusia kita sering menemukan karakter orang yang berbeda atau kita seringkali dihadapkan dengan pengalam hidup yang berbeda. Hal ini dikarenakan setiap manusia memiliki cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkahlaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen “Sulastri dan Empat lelaki” ini mengambarkan kepada kita bahwa kehidupan itu tidak hanya satu arah, kita harus memahami bahwa adanya perbedaan di antara manusia satu dengan lainnya. 

Cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” diceritakan dalam cerpen sebagai berikut

Tokoh Sulastri dengan tokoh Polisi

Dalam cepen “Sulastri dan Empat Lelaki” tokoh Sulastri dan tokoh Polisi menceritakan tentang mafia dan suap-menyaup yang dilakukan oleh polisi dengan perantara. Polisi menyuruh Sulastri agar turun dari tanggul, tapi ia tak mau ia hanya menghindar dari tindakan fisik. Sulastri berpikir Polisi tak mungkin mendeportasi Sulastri tanpa imbalan. Berikut kutipannya:

“Polisi berbaret biru  dan berkulit gelap itu memberi isyarat agar Sulastri turun dari tanggul. Sulastri tetap menolak untuk turun. Sang polisi mulai kehilangan kesabaran. Raut wajahnya yang cokelat gelap tampak menegang. Dia berjalan cepat menuju patahan tanggul yang belum selesai, kemudian menaiki bongkahan-bongkahan batu. Muncul kekhawatiran dalam diri Sulastri. Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri”.

Dari kutipan cerpen di atas menceritakan bahwa tokoh Sulastri dihadapkan dengan seorang polisi yang berkerjasama dengan perantara untuk menangkap manusia dengan perjanjian akan memulangkan mereka ke negerinya. Dalam kehidupan saat ini banyak sekali modus kejahatan yang menjadikan manusia sebagai korban pelaku untuk memeroleh uang dan keuntungan diri sendiri saja.  Kejahatan berupa kesepakatan secara ilegal antara kriminal dan bahkan dengan penegak hukum sendiri kerap kali terlibat dalam kegiatan perdagangan, perjudian, penggelapan dana, dan masih banyak lainnya. Kejahatan seperti ini sangat berbahaya, sebab ini merusak individu dan kelompok sosial dan menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Tokoh Sulastri oleh Tokoh Markam

Dalam cerpen “Sulastri dan Emapat Lelaki” menceritakan bahwa Markam, suami Sulastri tidak pernah lagi menghidupi Sulastri dan anak-anaknya karena ia lebih peduli untuk melakukan pertapa di aliran Bengawan Solo. Ia lebih mengapdikan hidupnya untuk kuburan dan benda-benda pusaka. Berikut kutipannya:

“Disana ada seorang lelaki bertapa menginginkan kehadiran benda-benda pusaka, membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawa. Lelaki itu bernama Markam, suami Sulastri. Suatu kali Markam pulang dengan berenang menyeberangi Bengawan Solo.”

“Aku tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak tua?”

Dari kutipan cerpen tersebut menggambarakan bahwa memang benar Markam sudah tidak peduli dengan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya harus berjuang sendiri untuk memperjuangkan hidup. Hal ini juga digambarkan dengan percakapan Sulastri dengan tokoh Musa. Berikut kutipanya:

“Kau masuk ke negeri ini secara haram. Bagaimana aku bisa menolongmu?” jawab Musa dengan suara besar menggema.

“Saya ditelantarkan suami, ya Musa.”

“Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”

“Saya seorang perempuan, ya Musa.”

Dari kutipan cerpen di atas mengambarkan bahwa Markam, suaminya Sulastri tidak bertangung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Markam lebih memilih untuk menikmati kehidupannya sendiri, yaitu memilih menyebah berhala agar mendapatkan benda pusaka yang ia inginkan. 

Pengambaran tokoh sulastri dengan tokoh Markam sering terjadi dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia saat ini banyak sekali terjadi perbuatan menelantarkan istri dan anak dengan sengaja. Hal ini terjadi dikarenakan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang tidak terpenuhi akan memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan, seperti mencuri, merampok, membunuh, dan lainnya. Tindakan tidak bertanggung jawab sering terjadi dalam kehidupan manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja. Padahal tangung jawab menjadi bagian kebutuhan manusia. Tangung jawab merupakan kesadaran seseorang terhadap pekerjaannya baik lingkungan keluarga maupun masyarakat. 

Tokoh Sulastri dengan Tokoh Firaun

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” menceritakan bahwa Firaun menganggap bahwa Sulastri adalah budaknya yang diserahkan oleh Markam. Karena Firaun merasa Sulastri sudah menjadi miliknya, Sulastri tidak boleh menolak apapun yang diperintahkan Firaun. Tetapi Sulastri tidak terima diperlakukan seperti itu karena dia tidak menyembah berhala seperti suaminya. Dan Sulastri ingin berlari. Tapi Firaun akan membebaskan Sulastri jika ada yang mampu membayar atau membeli Sulastri. Berikut kutipannya:

“Ooo…Siapa yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah aku!”.

…Sulastri dengan cepat berbalik arah dan berlari.

“Hai, jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah milik tuanmu. Tunduklah kehadapanku!”

Disaat Sulastri berlari menjauhi Firaun, Firaun tetap saja mengejarnya. Ia tak ingin kehilangan budaknya begitu saja. Berikut kutipannya:

“Sulastri terus berlari. Firaun melangkahkan kakinya, makin cepat dan cepat, lalu berlari. Bunyi mendebam di atas tanggul. Dari kejauhan terlihat seperti gadis kecil dikejar raksasa.

Dari kutipan cerpen di atas mengambarkan penindasan yang dilakukan penguasa, bahwa para penguasa seenaknya mengatur dan harus mematuhi setiap perintah. Dalam kehidupan saat ini banyak sekali terjadi penindasan yang dilakukan oleh orang yang berkuasa atau dilakukan oleh kelompok yang kuat terhadap yang lemah. Bentuk penindasan yang diceritakan dalam cerpen tersebut masih sama seperti yang terjadi saat ini, yaitu lebih pada penindasan yang berpegang pada kemanusian yang melahirkan kemiskinan. Penguasaan yang berujung pada penindasan ini disebabkan oleh kekuatan lapisan masyarakat yang lebih berkuasa secara finansial, budaya, politik dan kedudukan. 

Tokoh Sulastri  dengan tokoh Musa

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” tokoh Sulastri dan tokoh Musa menceritakan  keadaan yang dialami Sulastri di negerinya. Para pemimpin membiarkan rakyatnya kesusahan dan tidak bisa berdaya akibat ulah pemimpin negeri. Pada saat pemilihan saja para pemimoin membutuhkan rakyatnya. Berikut kutipan percakapan Sulastri dengan tokoh lain, Musa:

“Kami menderita, ya Musa”

“Para pemimpin negerimu serakah.”

“Kami tak kebagian, ya Musa”

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

“Kami tak memperoleh keadilan, ya Musa.”

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

“Tolonglah saya, ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkann saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

“Tolonglah saya, Ya Musa….”

Dari kutipan cerpen tersebut menggambarkan ketidakadilan yang dialami oleh Sulastri di negerinya dan juga menggabarkan penindasan yang dilakukan oleh para penguasa yang tidak memerhatikan rakyat yang sudah memilih mereka. Pengambaran kehidupan tokoh Sulastri tersebut masih terjadi pada kehidupan manusia saat ini. Pemerintah tidak mempedulikan rakyatnya ketika sudah menduduki kekuasaan yang diinginkannya. Pemerintah akan peduli jika ada program menduduki kekuasaan yang baru. Hal ini menyebabkan tingginya angka kemiskinan di negeri ini. Kemiskinan bukan hanya disebabkkan oleh kemalasan, melainkan oleh ketidakadilan. Dalam hal ini, penguasa hanya membuat sitem kebijakan hanya menguntungkan kelompok tertentu.  Selain itu, tidak berpihaknya penguasa terhadap rakyat kecil dikarenakan matinya nurani dalam memahami kesulitan rakyat kecil. Pada saat ini, kemiskinan yang dihadapai sangat luar biasa. Hal ini terjadi karena begitu banyak kebijakan yang menyulitkan rakyat kecil untuk mengembangkan usahanya. Jika ini terus-menerus terjadi, maka kemiskinan akan semakin meningkat. 


Cerpen “Sulastri dan Emapat Lelaki” memiliki kaitan dengan masalah yang terjadi di Indonesia saat ini. Berikut pemaparannya.

Masalah Politik

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat lelaki” mengambarkan masalah politik yang terjadi di negerinya. Hal ini ditunjukkan dengan dialog tokoh Sulastri dan tokoh Musa. Berikut kutipan percakapan Sulastri dengan tokoh lain, Musa:

“Kami menderita, ya Musa”

“Para pemimpin negerimu serakah.”

“Kami tak kebagian, ya Musa”

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

“Kami tak memperoleh keadilan, ya Musa.”

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

“Tolonglah saya, ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkann saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

Dari kutipan doalog tokoh Sulastri dengan tokoh Musa, jelas pengarang disini mengambarkan masalah politik yang terjadi di negeri ini. Jika kita melihat kenyataan sekarang masyarakat kecewa karena diberi harapan palsu oleh para elit politik. Politik yang diisi dengan janji yang mengarahkan kebohongan, para pemimpin memberikan janji kepada masyarakat ketika waktu pemilihan tiba. Ketika sudah terpilih, mereka tidak lagi memerhatikan rakyat kecil yang sudah berjuang untuk mereka. Hal ini membuat orang kecewa,  banyak ketidakadilan yang dialami masyarakat karena ulah pemimimpinnya sendiri.

Masalah Hukum

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” mengambarkan kurangnya penegakan hukum dalam memelihara dan menciptakan keadilan bagi semua masyarakat. Hal ini diceritakan pengarang melalui tokoh Sulastri dan tokoh polisi. Berdasarkan cerita yang dialami tokoh Sulastri, jelas memperlihatkan penyalahgunaan kekuasaan untuk kempentingan pribadi. Hukum seharusnya bertindak dan memihak siapapun tanpa memandang status, terutama dalam mengadili pelaku perdangangan manusia. Kurangnya penegakan hukum memberi celah bagi para penguasa untuk menindas oarang yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa penegakan hukum perlu diperhatikan kembali untuk kepentingan bersama, bukan untuk pihak tertentu saja.

Masalah Ekonomi

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat lelaki” mengambarkan masalah sosial yang disebabkan oleh faktor ekonomi, yaitu kemiskinan. Hal ini diceritakan secara jelas oleh pengarang untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang terjadi pada masyarakat saat ini. Meskinpun kita bejuang untuk membebaskan diri dari kemisikinan, kenyataannya sampai saat ini Indonesia belum bisa lepas dari masalah kemisinan. Seperti yang diceritakan dalam cerpen melalui tokoh Firaun, bahwa kemiskinan itu terjadi karena malas dan tidak ada usaha. Selain itu, juga digambarkan denga doalog antara tokoh Sulastri dan Musa. Kemisikinan terjadi karena ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimim dalam mensejahtrakan rakyatnya.


Cerpen “Sulastri dan Emapat Lelaki” banyak menggambarkan kehidupan yang terjadi saat ini. Kejadian dalam cerpen ini merupakan bentuk ungkapan hati pengarang untuk menggambarkan kondisi kehidupan yang terjadi di masyarakat. Pengarang menggambarkan kehidupan masarakat dengan berbagai kondisi yang dialami oleh tokoh Sulastri. Dalam cerpen ini pengarang tidak menceritakan dengan jelas setiap akhir cerita antara tokoh Sulastri dan Empat Lelaki. Pengarang mungkin sengaja membuat cerita seperti itu untuk membuat penasaran bagi pembaca.


Sabtu, 17 April 2021

Kritik dan Esai Cerpen Di Jalan Jabal Kaabah

Kritik dan Esai Pada Cerpen Di Jalan Jabal Kaabah karya Shoim Anwar

Cerpen yang berjudul "Di Jalan Jabal Kaabah" karya Shoim Anwar menceritakan tentang perjalanan ibadah Tuan Amali dan Nyonya Tilah ke tanah suci. Ketika melakukan ibadah haji di tanah suci ada pula orang yang buruk dengan merugikan banyak orang yaitu seorang anak yang diperbudak untuk meminta-minta dengan cara yang tak wajar, menipu orang dengan cara berpura-pura tidak memiliki satu tangan dengan cara menyembunyikan separuh tangannya dibalik baju dalamnya. Awalnya Tuan Amali tidak mengetahui kebenaran tersebut, sehingga ia merasa iba dengan anak-anak cacat di Jabal Al-Kaabah.Tuan Amali pun  memberikan sedikit rezeki kepada anak-anak yang cacat itu.

Dalam kehidupan saat ini, banyak manusia yang  menyalahgunakan sebuah cara untuk memeroleh rezeki. Seringkali kita melihat di pinggir jalan, lampu merah, dan keramaian kota segerombol anak dibawah umur menjadi pengemis demi menarik rasa simpati dari oranglain.  Anak tersebut dipekerjakan oleh orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan manusia karena kurangnya pengetahuan dan wawasan seseorang tentang bagaimana mendapatkan rezeki yang layak untuk didapatkan.

Kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk memberikan teguran dan wawasan kepada orang yang tidak bertanggung jawab tersebut, seperti yang diceritakan penulis bahwa setelah mengetahui kebenaran tentang perbuatan yang tidak bertanggung jawab tersebut Tuan Amali sangat geram dan  akhirnya mendatangi anak tersebut dengan niat membongkar kebohongan tersebut. Hal ini dilakukan karena para pengemis hanya memanfaatkan sebuah keadaan,  mereka tidak mungkin benar-benar miskin bisa jadi ada yang kaya akan tetapi mereka melakukan itu hal tersebut. Anak kecil yang seharusnya lebih senang bermain dengan teman sebayanya justru malah sudah di ajarkan dengan hal yang tidak layak untuk mereka terima dan rasakan. Kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan manusia. Hal ini dilakukan karena masih kurangnya pengetahuan dan wawasan.

Cerpen yang berjudul "Di Jalan Jabal Al-Kabah" mengandung sebuah nilai bahwa, dalam mencari rezeki hendaknya dilakukan dengan cara yang benar. Untuk mendapatkan rezeki tidak harus mengemis, apalagi yang menjadi sasaran dalam mengemis adalah anak kecil. Masih banyak cara untuk mendapatkan rezeki yang halal dan bisa dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Kelebihan : cerpen ini mudah dipahami dan menarik untuk dibaca. Bahasanya yang mudah dipahami pembaca juga menjadi nilai plus tersendiri.

Kekurangan : Tidak digambarkan secara utuh sehingga pembaca bertanya-tanya bagaimana reaksi Nyonya Tilah setelah mengetahui kabar yang sebenarnya.


Sabtu, 10 April 2021

Kritik dan Esai Sastra cerpen “Ada Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah” Karya M.Shoim Anwar

Kritik dan Esai Sastra cerpen “Ada Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah” Karya M.Shoim Anwar

Sastra merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang, atau hasil imajinasi pengarang yang bertolak dari suatu kenyataaan. Dalam cerpen Cerpen “Ada Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah” Karya M.Shoim Anwar menceritakan tentang kehidupan maasyarakat sekarang. Cerpen ini digambarkan tenang kehidupan masyarakat yang suka bergosip tentang kehidupan orang lain baik yang buruk ataupun yang baik selalu menjadi bahan untuk diperbincangkan mereka. Cerpen Cerpen “Ada Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah” Karya M.Shoim Anwar ini diambil dari kehidupan nyata bahwa banyak masyarakat yang masih menggosipkan tentang kehidupan orang lain sebagai bahan obrolan antar masyarakat. Terbukti dari kutipan cerpen berikut ini:

 “Ada  tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti.”

Dalam kutipan tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat sekarang yang suka membicarakan tentang kehidupan orang lain. Dalam kehidupan nyata banyak orang yang membicarakan orang lain banyak diantaranya adalah perbuatan yang baik mereka yang berbicara mempunyai maksud untuk memberitahukan kepada orang lain agar mengetahui aib orang terebut, tak jarang apa yang dibicarakan tidak benar adanya.

“Di luar sana juga ada omongan soal kedekatan istri Pak Lurah dengan bos proyek perumahan,” aku membuka pembicaraan dengan istri.

“Kedekatan yang gimana lagi?” istriku mendongak.

“Bos proyek itu sering datang saat Pak Lurah tidak ada di rumah. Katanya juga pernah keluar bareng.”

Dalam kutipan tersebut menggambarkan dimana mereka membicarakan istri dari pak Lurah dimana yang mereka bicarakan adalah istri pak Lurah yang memiliki kedekatan dengan bos proyek saat pak Lurah sedang bekerja. Dalam kehidupan nyata banyak warga yang senang dengan bergunjing dari mulut kemulut tanpa melihat kebenaran yang ada yang mereka pikirkan hanyalah keburukan dari orang lain tanpa mengolahnya terlebih dahulu.

“Pak Lurah telah menceraikan istrinya yang pertama. Ini istri kedua. Andai tetap dengan Bu Lurah yang dulu, tak akan tersiar kabar kayak begini.”

“Bisa jadi berita itu datangnya dari suaminya yang dulu.”

“Lo, Bu Lurah yang sekarang itu masih perawan. Selisih umurnya katanya dua puluh tahun,” istriku menegaskan sambil menyambut Laela yang baru pulang sekolah”.

Dalam kutipan tersebut menggambarkan dimana istri kedua pak lurah dianggap sebagai wanita yang tidak baik oleh mereka yang bergosip, banyak yang menyangka bahwa cerainya pak Lurah dengan istri yang pertama akibat ulah dari istri kedua. Tidak hanya disitu saja mereka juga membicarakan tentang tahi lalat yang ada di dada istri pak Lurah. Bergosip sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi  warga. Didunia nyatapun juga seperti itu, banyak masyarakat yang hobi bergosip tentang orang lain.

Dalam cerpen  tersebut juga digambarkan bahwa sosok seorang pejabat yang memiliki sifat serakah yaitu pak Lurah. Demi mendapatkan banyak uang untuk keuntungan pribadinya. Bahkan dia memanfaatkan orang miskin untuk meraup keuntungan pribadi dengan membodohi mereka supaya mereka menjual tanahnya. Dalam kehidupan sekarang pun masih ada masyarakat yang menipu orang lain demi keuntungannya semata. Itu juga ada didalam kutipan cerpen sebagai berikut:

“ “Bilang sama Pak Lurah,” aku melanjutkan, “mestinya kehidupan kami diperbaiki agar makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual tanahnya kayak kompeni.”

“Kalau ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja.”

“Jadi kuli dan babu!” aku menyergah.”

Dalam cerpen ini pun warga masih membicarakan orang lain tanpa melihat sikon terlebih dahulu dimana mereka tidak menyerap informasi apakah itu benar adanya, yang mereka tahu hanyalah bergosip. Dalam kutipan cerpen menunjukan bahwa saat bergosipun mereka tidak melihat sekeliling apakah ada orang lain yang mendengar contohnya saja pada cerpen, ada anak dari mereka yang mendengar percakapan itu. Perlu diingat bahwa pada usia anak-anak, anak akan menyerap dan mempelajari apa yang dia dengar dan dia lihat jadi sebaiknya orang tua harus waspada bahkan berhati-hati saat membicarakan sesuatu. Kutipan cerpen berikut :

 “Haaa…??!!!” aku heran dan terhenyak. Istriku juga tampak terbengong-bengong. Kami saling memandang. Tak bicara apa-apa. Entah bagaimana ceritanya Laela tiba-tiba menunjukkan gambar perempuan yang bertahi lalat di dadanya. Persis gunjingan yang hari-hari ini kami dengar.

“Ini tahi lalat di dada istri Pak Lurah…” kembali anakku menuding gambar yang telah dibuatnya. Kami hanya tersenyum. Kecut dan heran”.

Dapat disimpulakan bahwa bergosip sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat baik dalam kehidupan nyata maupun dalam cerpen yang berjudul “Ada Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah” Karya M. Shoim Anwar. Dengan membicarakan keburukan maupun kebaik orang lain itu tidak baik adanya apalagi sampai menimbulkan masalah dan kesalah pahaman. Sebaiknya kebiasaan buruk tentang bergosip dihilangkan karena bisa membuat masalah muncul antaranya kesalahpahaman, perdebatan dan perkelahian. Masyarakat saat ini harus waspada dengan pikiran mereka sendiri maupun dengan mulut mereka karena ada pepatah mulutmu harimaumu dimana dari mulut banyak menyebabkan masalah kalau yang dikeluarkan merupakan kata-kata yang buruk.


Kritik dan Esai Lima Cerita Pendek

Judul cerita pendek yang akan dibahas yaitu; "Sorot Mata Syaila", "Sepatu Jinjit Aryanti", "Bambi dan Perempuan Ber...